Wakil Kepala BGN Menangis, Minta Maaf atas Kasus Keracunan MBG
Sejumlah siswa terbaring akibat keracunan massal MBG di Cipongkor dan Cihampelas, Bandung Barat, kini tembus 1.315 orang. Pemkab menetapkan status KLB dan menyiagakan posko kesehatan di berbagai titik. (Foto: Deni Supriatna/TIMES Indonesia)

Wakil Kepala BGN Menangis, Minta Maaf atas Kasus Keracunan MBG

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, tak kuasa menahan air mata saat meminta maaf atas kasus keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ribuan siswa di berbagai daerah Indonesia. Permintaan maaf itu ia

TIMES Tuban,Sabtu 27 September 2025, 10:30 WIB
567.1K
R
Rochmat Shobirin

JAKARTAWakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, tak kuasa menahan air mata saat meminta maaf atas kasus keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ribuan siswa di berbagai daerah Indonesia. Permintaan maaf itu ia sampaikan dalam konferensi pers pada Jumat (26/9/2025).

“Dari hati saya yang terdalam, saya mohon maaf. Atas nama BGN dan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Indonesia, saya minta maaf. Sebagai seorang ibu, melihat video anak-anak yang sakit membuat hati saya sangat sedih,” ujar Nanik dengan suara bergetar.

BGN Akui Kelalaian SOP

Dalam penjelasannya, Nanik mengungkapkan sekitar 80 persen kasus keracunan terjadi akibat standar operasional prosedur (SOP) yang tidak dipatuhi, baik oleh mitra penyedia maupun tim internal BGN. Ia juga menekankan bahwa tidak semua kasus disebabkan oleh makanan beracun. Beberapa siswa disebut mengalami reaksi alergi atau faktor kesehatan lainnya.

“BGN bertanggung jawab penuh atas kesalahan ini,” tegas Nanik.

Ribuan Siswa Jadi Korban

Data resmi BGN per 25 September 2025 mencatat ada 5.914 korban keracunan MBG di seluruh Indonesia. Angka ini dihimpun dari tiga wilayah besar. Wilayah I (Sumatra): 1.307 korban, dengan 9 kasus keracunan.Wilayah II (Jawa): 3.610 korban, dengan 41 kasus. dan Wilayah III (Kalimantan, Sulawesi, Indonesia Timur): 997 korban, dengan 20 kasus.

Jumlah tersebut menunjukkan mayoritas kasus terjadi di Pulau Jawa, yang sekaligus menjadi pusat distribusi terbesar program MBG.

Dampak bagi Program MBG

Kasus ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan masyarakat, terutama orang tua siswa penerima manfaat MBG. Banyak yang mempertanyakan kualitas pengawasan dapur penyedia makanan serta kesiapan pemerintah menjalankan program berskala nasional.

Sejumlah pakar kesehatan menilai kasus ini harus dijadikan momentum evaluasi menyeluruh, agar program MBG tidak kehilangan kepercayaan publik. “Kalau tidak segera diperbaiki, niat baik pemerintah untuk meningkatkan gizi anak bisa justru membawa dampak buruk,” kata seorang pengamat kesehatan masyarakat.

Evaluasi dan Harapan ke Depan

Meski diterpa kritik, Nanik menegaskan BGN akan melakukan evaluasi total terhadap mitra penyedia, standar dapur, hingga distribusi makanan. Ia berharap langkah cepat ini dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat sekaligus menjamin keselamatan anak-anak penerima MBG.

“Ini tanggung jawab kami. Kami berjanji akan memperbaikinya demi masa depan anak-anak Indonesia,” pungkasnya.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Rochmat Shobirin
|
Editor:Imadudin Muhammad

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Tuban, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.