Berita

Muktamar ke-34 NU Lampung, Strategi Menuju Satu Abad

Kamis, 28 Oktober 2021 - 08:11
Muktamar ke-34 NU Lampung, Strategi Menuju Satu Abad Presiden Jokowi saat menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konfrensi Besar NU di Banjar, Jawa Tengah. (FOTO: Rakyat Merdeka)

TIMES TUBAN, JAKARTAMuktamar ke-34 NU Lampung untuk memilih Ketua Umum dan pengurus baru akan dilaksanakan di Lampung pada akhir bulan Desember 2021 nanti.

Jika tak ada perubahan, maka terdapat tiga lokasi yang akan digunakan. Antara lain Universitas Islam Negeri Raden Intan, Universitas Malahayati di Kota Bandar Lampung, dan Pondok Pesantren Darussa’adah di Kabupaten Lampung Tengah.

Peneliti di Pusat Riset Biologi-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mohammad Fathi Royyani dalam tulisannya berjudul "Agenda Sains dalam Muktamar NU" mengatakan, muktamar 2021 ini penting bagi organisasi yang didirikan oleh Kiai Hasyim Asy'ari ini.

Hal itu karena pengurus yang terpilih nantinya akan melewati usia satu abad, yakni tahun 2026. NU berdiri pada 31 Januari 1926 M atau 16 Rajab 1344 di Surabaya, Jawa Timur. Artinya, tanggal 31 Januari 2026 nanti, organisasi Islam ini sudah berusia 100 tahun.

Mohammad Fathi Royyani mengatakan, satu abad adalah penting karena sebagai titik pijakan historis baru dari organisasi ini, yang tentu berbeda sistuasi dan tantangan saat didirikan.

Ia menyampaikan, kecepatan informasi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi kerakyatan, dan masyarakat yang berubah secara cepat adalah diantara sekian tantangan dalam usia satu abad.

Sementara itu, Peneliti Alvara Research Center Hasanuddin Ali mengatakan, Muktamar NU kali ini memiliki agenda besar untuk merumuskan berbagai strategi dan kebijakan untuk lima tahun mendatang.

Melalui tulisan di halaman facebook, seperti yang juga dikutip oleh NU Online, Hasan menyampaikan, setidaknya ada tiga tantangan yang harus dijawab NU dalam menyongsong satu abad ini.

Hayan menyampaikan, Muktamar kali ini merupakan momentum sangat krusial bagi NU. Denyutnya bisa disamakan dengan Muktamar NU di Situbondo pada 1984 saat NU menghasilkan keputusan sangat penting. Yaitu menerima Pancasila sebagai asas kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tantangan pertama, soal manajemen organisasi. Sebagai organisasi besar, NU membutuhkan organisasi yang efektif yang bisa menggerakan anggota-anggotanya. Relasi jam'iyah dan jama'ah yang kadang tidak sejalan harus ditemukan jalan keluarnya.

Kedua, yang harus dijawab NU adalah berorientasi pada pelayanan umat. Setiap program NU harus menempatkan umat sebagai poros utamanya. Salah satunya, layanan keagamaan dan sosial kemasyarakatan NU harus dirasakan secara nyata oleh masyarakat luas.

"Ketiga, penguatan SDM Nahdliyin. Kompetensi Nahdliyin semakin beragam, tidak hanya agama. Mereka harus lebih banyak diberi ruang untuk beraktualisasi menyumbangkan ide dan gagasannya," ujarnya.

Ketua Litbang Pengurus Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor ini menambahkan, kebutuhan Nahdliyin ke depan tidak lagi melulu soal agama tetapi juga mengenai ekonomi, teknologi, dan berbagai kebutuhan dasar lainnya. Karena itu, sumbangsih dari para diaspora Nahdliyin dari berbagai disiplin ilmu di berbagai belahan dunia, sangat dibutuhkan oleh NU.

"Apapun hasil Muktamar nanti seharusnya mampu menjawab tiga tantangan tersebut. Apalagi sebentar lagi, tahun 2026, NU akan berusia 100 tahun dan akan memasuki abad kedua," jelasnya.

Muktamar ke-33 Jombang Jadi Pelajaran

Oleh karena pentingnya Muktamar di Lampung ini, para pengurus NU seyogianya bisa mendewasakan diri dan mengambil pelajaran dari Muktamar NU ke-33 Kabupaten Jombang, yang dinodai kericuhan itu. Pada Sidang Pleno I Muktamar ke-33 NU di Kabupaten Jombang, ricuh, Minggu (2/8/2015) malam silam. Ricuh itu diawali ketika muktamirin tak sepakat soal pemilihan Rais Aam.

Satu pihak menghendaki pemilihan memakai metode ahlul halli wal aqdi (Ahwa) atau musyawarah mufakat. Pihak lainnya mau pemilihan lewat voting. Di tengah semerawut, tiba-tiba seorang muktamirin lantang menghina kiai PBNU.

Akhirnya, para sesepuh NU waktu itu seperti KH Miftahul Akhyar dan Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus mengaku sangat kecewa. Mereka tak kuasa menahan tangis dan kesedihan saat melihat Muktamar itu dijadikan arena menunjukkan sikap yang jauh dari akhlakul karimah dan tradisi NU.

Salah satu kader NU, seperti Effendy Choirie atau Gus Choi mengharapkan Muktamar NU di Lampung ini nantinya berlangsung dalam suasana yang sejuk, damai dan menggembirakan.

Terutama kata dia, gelaran untuk mencari pimpinan tertinggi di organisasi keagamaan terbesar ini berjalan tanpa mahar. Muktamar NU mampu memilih Rois Aam Syuriah dan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU melalui musyawarah mufakat, tanpa mahar uang, tanpa jual beli suara, tanpa mobilisasi politik, tanpa gejolak politik,

"Tanpa intervensi dari pihak manapun baik dalam negeri maupun luar negeri," ujarnya melalui keterangan resminya dikutip TIMES Indonesia.

Muktamar NU kali ini juga diharapkan menjunjung musyawarah mufakat. Sehingga bisa menghasilkan berbagai keputusan substantif dan strategis untuk kepentingan agama, bangsa dan negara.

Ia juga mengharapkan semua warga nahdliyin mengikuti Muktamar dengan penuh keikhlasan dan semangat perjuangan sesuai dengan nilai-nilai dasar yang diletakkan oleh para pendiri NU.

"Sebagai ormas terbesar di indonesia bahkan dunia, NU diharapkan mampu memberi contoh dan teladan yang baik untuk menjadi inspirasi bagi negeri ini," katanya.

Dua Kandidat

Dalam Muktamar NU kali ini, ada beberapa figur-figur yang mulai digadang-gadang akan menjadi nakhoda selanjutnya. Namun yang paling senter belakang yakni KH Said Aqil Siraj dan KH Yahya Cholil Staquf.

Diketahui, untuk Said Aqil sendiri sudah dua kali menjabat Ketua PBNU. Namun ia menegaskan akan kembali mencalonkan diri. Apalagi dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), masa jabatan ketua umum PBNU ini memang secara eksplisit tidak dibatasi.

Pengasuh Pondok Pesantren Ats Tsaqafah, Jakarta Selatan ini mengaku, pilihannya untuk kembali maju karena adanya dorongan dari sejumlah kader NU. Ia dianggap mampu membawa organisasi Islam terbesar di Indonesia ini disegani di kancah dunia.

Sedangkan nama KH Yahya Cholil Staquf juga digadang-gadang mencalonkan diri menjadi Ketum PBNU. Ia mengatakan, ada dua hal yang ingin dikembangkan untuk organisasi NU.

Pertama adalah membangun sistematika agenda dalam organisasi. Lalu kedua memperkenalkan wawasan khidmah pelayanan inklusif.

"Seharusnya NU sebagai struktur organisasi ketika membuat pelayanan tidak berpikir hanya untuk melayani warga NU saja," ujarnya seperti dikutip dari Kompas.id.

Mengenai Syarat Jadi Ketum PBNU

NU adalah organisasi Islam yang mempunyai aturan berupa AD/ART organisasi yang mengatur aktivitas organisasi termasuk syarat menjadi Ketum PBNU.

Syarat Menjadi Ketum PBNU

Berikut syarat untuk menjadi pengurus PBNU (termasuk juga di dalamnya posisi ketua umum) termaktub pada Anggaran Rumah Tangga (ART) NU Bab XIII tentang Syarat Menjadi Pengurus Pasal 39 ayat (6) hasil Muktamar ke-33 Jombang tahun 2015.

“Untuk menjadi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama harus sudah pernah menjadi pengurus harian atau pengurus harian lembaga PBNU, dan/atau pengurus harian di tingkat wilayah, dan/atau pengurus harian badan otonom tingkat pusat serta sudah pernah mengikuti pendidikan kaderisasi," bunyi ART Pasal 39 ayat (6) hasil Muktamar ke-33 Jombang tahun 2015 lalu.

Persyaratan kaderisasi yang dimaksud adalah mengikuti Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) yang secara efektif telah diberlakukan sejak tiga tahun setelah gelaran Muktamar ke-33 NU di Jombang.

Selanjutnya, ART NU juga mengatur tentang tata cara pemilihan dan penetapan pengurus, termasuk salah satunya memilih ketua umum PBNU. Hal ini termaktub di dalam Bab XIV Pasal 40 ayat (1) poin (e).

“Ketua umum dipilih secara langsung oleh muktamirin (peserta muktamar) melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam muktamar, dengan terlebih dahulu menyampaikan kesediaannya secara lisan atau tertulis dan mendapat persetujuan dari rais aam terpilih," bunyi ART Bab XIV Pasal 40 ayat (1) poin (e).

Wewenang Ketum PBNU

Wewenang dan Tugas Ketua Umum PBNU Setelah terpilih, ketua umum memiliki wewenang dan tugas yang harus dijalankan, begitu pula bagi seluruh pengurus PBNU, selama satu periode kepengurusan atau lima tahun dalam waktu normal. Setidaknya, terdapat enam wewenang ketua umum yang terdapat di dalam ART NU Bab XVIII Pasal 64 ayat (1).

1. Mewakili PBNU baik ke luar maupun ke dalam yang menyangkut pelaksanaan kebijakan organisasi dalam bentuk konsultasi, koordinasi maupun informasi.

2. Merumuskan kebijakan khusus organisasi.

3. Bersama rais aam mewakili PBNU dalam hal melakukan tindakan penerimaan, pengalihan, tukar-menukar, penjaminan, penyerahan wewenang penguasaan/pengelolaan, dan penyertaan usaha atas harta benda bergerak dan atau tidak bergerak milik atau yang dikuasai Nahdlatul Ulama dengan tidak mengurangi pembatasan yang diputuskan oleh muktamar baik di dalam atau di luar pengadilan.

4. Bersama rais aam menandatangani keputusan strategis organisasi PBNU.

5. Bersama rais aam membatalkan keputusan perangkat organisasi yang bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama.

6. Bersama rais aam dan sekretaris jenderal menandatangani surat-surat keputusan biasa PBNU.

Tugas Ketum PBNU

Sementara tugas Ketum PBNU terdapat di ayat selanjutnya, masih pada bab dan pasal yang sama. Ada empat tugas yang harus dilakukan ketua umum selama masa satu periode kepengurusan.

1. Memimpin, mengatur, dan mengoordinasikan pelaksanaan keputusan-keputusan muktamar dan kebijakan umum PBNU.

2. Memimpin, mengoordinasikan dan mengawasi tugas-tugas di antara pengurus besar tanfidziyah.

3. Bersama rais aam memimpin pelaksanaan muktamar, musyawarah nasional (munas) alim ulama, konferensi besar, rapat kerja, rapat pleno, rapat harian syuriyah dan tanfidziyah. Keempat, memimpin rapat harian tanfidziyah dan rapat pengurus lengkap tanfidziyah.

Harapan dalam Muktamar ke-34 NU

Diketahui, persiapan matang sudah diupayakan agar pelaksanaan forum permusyawaratan tertinggi NU itu dapat berjalan dengan sukses.

Rabu (27/10/2021) kemarin, dalam rapat persiapan Muktamar ke-34 NU, di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya 164 Jakarta, Ketua Pengarah Panitia Pelaksana Muktamar NU ke-34, Mohammad Nuh mengharapkan agar seluruh jajaran kepanitiaan mampu menciptakan kesejukan pada perhelatan muktamar mendatang.

“Kita harus ciptakan suasana muktamar yang sejuk. Kita harapkan, kita bawa suasananya sejuk. Siapa yang akan jadi nanti, itu takdir. Tapi tugas kita adalah menyiapkan suasana sejuk,” jelasnya.

Menteri Komunikasi dan Informatika meminta para panitia bisa menjalankan tugas sebagai pemberi kesejukan, bukan justru menjadi mesin pemanas.

“Kami dari SC (steering committee) berharap betul di antara kita semua, sebagai agen yang membuat kesejukan,” jelasnya.

Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya periode tahun 2003–2006 itu juga mengingatkan supaya komunikasi publik yang dilakukan panitia dapat berjalan baik dan efektif. Itu dilakukan agar tema muktamar yang akan fokus pada bahasan persoalan NU menuju satu abad dan kemandirian dapat diterima dengan baik oleh publik.  

“Temanya soal usia NU 100 tahun dikaitkan dengan kemandirian ini sakral betul, sehingga jangan sampai yang tahu hanya kita sendiri. Tetapi kita harapkan publik juga harus sudah mengetahui gagasan besar NU itu apa dan bagaimana di 100 tahun berikutnya,” ujarnya soal Muktamar ke-34 NU Lampung. (*)

Pewarta : Moh Ramli
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Tuban just now

Welcome to TIMES Tuban

TIMES Tuban is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.