Berita

Sejarah Hari Ini: 27 Oktober, Kongres Pemuda II, Hari Listrik serta Hari Penerbangan Nasional

Rabu, 27 Oktober 2021 - 16:00
Sejarah Hari Ini: 27 Oktober, Kongres Pemuda II, Hari Listrik serta Hari Penerbangan Nasional Kongres Pemuda II yang yang dimulai pada 27 Oktober 1928. kongres kemudian memunculkan apa yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda, yang peringatannya dilakukan setiap tanggal 28 Oktober. (FOTO: IPHHOS)

TIMES TUBAN, JAKARTASejarah hari ini mencatat, setiap 27 Oktober ada dua peringatan penting di Indonesia. Yang pertama Hari Listrik Nasional dan Hari Penerbangan Nasional. 27 Oktober juga mencatat sebuah peristiwa penting bagi bangsa Indonesia. Pada tanggal 27-28 Oktober 1928, digelar Kongres Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia. Hasil kongres kemudian memunculkan apa yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda, yang peringatannya dilakukan setiap tanggal 28 Oktober.

1945: Hari Listrik Nasional

Listrik-Nasional.jpg27 Oktober diperingati sebagai Hari Listrik Nasional. Peringatan ini merujuk pada pembentukan Djawatan Listrik dan Gas oleh Presiden Soekarno pada 27 Oktober 1945. (FOTO: antaranews)

Sejarah Peringatan Hari Listrik Nasional (HLN) mengambil momentum nasionalisasi perusahaan-perusahaan listrik dan gas yang semula dikuasai penjajah Jepang.

Dikutip dari situs Kementerian ESDM, melalui Penetapan Pemerintah No. 1 tanggal 27 Oktober 1945 dibentuklah Jawatan Listrik dan Gas. Tanggal 27 Oktober kemudian diperingati sebagai Hari Listrik Nasional.

Sejarah kelistrikan Indonesia sebenarnya telah dimulai pada akhir abad ke 19, pada saat beberapa perusahaan Belanda, antara lain pabrik gula dan pabrik teh mendirikan pembangkit tenaga listrik untuk keperluan sendiri. Kelistrikan untuk umum mulai ada pada saat perusahaan swasta Belanda yaitu N V. Nign, yang semula bergerak di bidang gas memperluas usahanya di bidang penyediaan listrik untuk umum.

Pada tahun 1927 pemerintah Belanda membentuk s'Lands Waterkracht Bedriven (LWB), yaitu perusahaan listrik negara yang mengelola PLTA Plengan, PLTA Lamajan, PLTA Bengkok Dago, PLTA Ubrug dan Kracak di Jawa Barat, PLTA Giringan di Madiun, PLTA Tes di Bengkulu, PLTA Tonsea lama di Sulawesi Utara dan PLTU di Jakarta. Selain itu di beberapa Kotapraja dibentuk perusahaan-perusahaan listrik Kotapraja.

Setelah Belanda menyerah kepada Jepang dalam perang dunia 2, maka Indonesia dikuasai Jepang. Perusahaan listrik dan gas juga diambil alih oleh Jepang, dan semua personil dalam perusahaan listrik tersebut diambil alih oleh orang-orang Jepang.

Dengan jatuhnya Jepang ke tangan Sekutu, dan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, kesempatan yang baik ini dimanfaatkan oleh pemuda dan buruh listrik dan gas untuk mengambil alih perusahaan-perusahaan listrik dan gas yang dikuasai Jepang.

Setelah berhasil merebut perusahaan listrik dan gas dari tangan Jepang, pada bulan September 1945 suatu delegasi dari buruh/pegawai listrik dan gas menghadap pimpinan KNI Pusat yang pada waktu itu diketuai oleh M. Kasman Singodimedjo untuk melaporkan hasil perjuangan mereka.

Selanjutnya, delegasi bersama-sama dengan pimpinan KNI Pusat menghadap Presiden Soekarno, untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan listrik dan gas kepada pemerintah Republik Indonesia. Penyerahan tersebut diterima oleh Presiden Soekarno, dan kemudian dengan Penetapan Pemerintah No. 1 tahun 1945 tanggal 27 Oktober 1945 dibentuklah Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga.

1945: Hari Penerbangan Nasional

Pesawat-Cureng-dengan-hiasan-bendera-merah-putih.jpgPesawat Cureng dengan hiasan bendera merah putih yang diterbangkan oleh Komodor Udara Agustinus Adisupcito pada 27 Oktober 1945 lalu. Pesawat ini disimpan di Museum Satria Mandala, Yogyakarta. (FOTO: aviahistoria/Sudiro Sumbodo)

Setiap tanggal 27 Oktober diperingati sebagai Hari Penerbangan Nasional untuk memperingati sejarah penerbangan pertama pesawat berbendera merah putih di Pangkalan Maguwo oleh Komodor Udara Agustinus Adisupcito pada 27 Oktober 1945 lalu.

Dikutip dari situs Kementerian Perhubungan, Agustinus Adisutjipto menerbangkan pesawat cureng yang dilengkapi dengan bendera merah putih untuk pertama kalinya. Pesawat itu merupakah hasil rampasan dari tentara Jepang.

Peristiwa tersebut menghasilkan dampak psikologis yang luar biasa untuk menembangkan kekuatan udara nasional.

1928: Kongres Pemuda II

Kramat-Raya.-WR-Supratman.jpgDiorama di Museum Sumpah Pemuda Jalan Kramat Raya. WR Supratman memainkan biola menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam Kongres Pemuda II di Museum Sumpah Pemuda. (FOTO: ANTARA/Dewanto Samodro)

Pada tanggal 27-28 Oktober 1928, digelar Kongres Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia. Hasil kongres kemudian memunculkan apa yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda, yang peringatannya dilakukan setiap tanggal 28 Oktober.

Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia.

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng).

Ketua PPPI Sugondo Djojopuspito ketika itu berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda.

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, dideklarasikan Sumpah Pemuda, yang intinya menegaskan cita-cita akan ada "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan "bahasa Indonesia". (*)

Pewarta : Ratu Bunga Ambar Pratiwi (MG-345)
Editor :
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Tuban just now

Welcome to TIMES Tuban

TIMES Tuban is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.